h1

Awal Yang Melelahkan

Oktober 26, 2008

Saya sebagai pencinta baru sepeda tua ingin berbagi pengalaman saya mendapatkan “beberapa” sepeda tua.
Berawal dari hobi saya fotografi, iseng-iseng

pengen belajar foto pre-wedding dengan sepeda tua, namun saya tidak punya sepeda tua, yang ada hanya sepeda gunung, maka isenglah saya browsing contoh-contoh foto pre-wedding sepeda tua di internet, dapatlah beberapa contoh. Namun yang jadi fokus ternyata bukan pose mempelai yang saya perhatikan, melainkan sepeda tua-nya. Saya tilik-tilik sepeda apa ya ini?, dari beberapa fot yang saya lihat. Terus dan terus selalu memperhatikan sepeda tua saya jadi kesengseng. Dijalan, dipasar, dimanapun saya selalu memperhatikan sepeda tua. Yang selalu melintas terbanyak adalah merk Phoenix, waktu itu jelas sekali merk tersebut, disamping bertulisan besar dibatangnya juga banyak digunakan oleh pedagang-pedagang, merk-merk lainnya saya belum faham betul karena juga sulit terlihat emblemnya, apalagi saat melaju.
Keinginan memiliki mulai timbul, ini terjadi sebelum Ramadhan 2008. Saya cari informasi dari berbagai pedagang yang menggunakan sepeda tua, umumnya mereka menggunakan Phoenix. Dari mereka itulah berkembang pengetahuan saya mengenai merk-merk sepeda tua, ada Simplex, Hercules, Phillips, Raleigh dan merk-merk lainnya.
Saya mulai menawar-nawar sepeda tua, ada yang via pedagang sayur, perantara bahkan yang sedang digenjot sekalipun saya tawar. Namun semuanya gagal, kebanyakan karena merknya Phoenix, yang saya tahu merk tersebut bukan Collector Item, ada juga yang karena kondisinya kurang seger, harganya mahal, barangnya tidak dijual dan berbagai sebab lainnya.
Saya semakin penasaran, saya terus mencari-cari. Saat itu sudah memasuki bulan Ramadhan, pekerjaan tidak terlalu menyita waktu, saya terus keliling kedesa-desa, kebengkel-bengkel juga masih ke pasar-pasar.
Saya berdomisili di Bekasi, awalnya saya coba cari ke sekitar Bantar Gebang, baik dipasar maupun bengkel-bengkel. Ada satu titik terang, saya menjumpai sebuah bengkel, diinformasikan oleh pemiliknya ada Phillips yang sedang digadai di temannya, katanya mau dijual tapi itupun jika masih ada. Disantronilah temanya yang mpunya bengkel tersebut, namun sayang sepeda sudah lenyap di beli orang.
Frustasi?…belum. Saya terus mencari kebengkel lainnya, bertemulah dengan sepasang Humber, namun apadaya duitnya nda nguber. Lewatlah sudah, pencarian dilanjutkan ke area lain di waktu lain masih di bulan Ramadhan. Kala itu GPS diarahkan dikampung diatas komplek saya, bertemulah dengan makhluk yang bernama

2 komentar

  1. beuu..giliran rame-ramenya ceritanya putus..jadi penasaran dong…bwahahahah..terusin ah.,

    Memang yg namanya mencari barang antik apapun itu pasti akan menemui kendala bermacam-macam ntah itu waktu, dana, atau pun kesempatan tapi dibalik semua itu tentu ada hikmah yang akan menjadi guru yaitu pengalaman….untung atau rugi secara tidak kita sadari pasti akan kita alami karena itulah kehidupan, jd kalau barang yg kita inginkan belum ketemu jangan putus asa mungkin memang belum waktunya…mengapa saya bisa mengatakan seperti itu? ya karena saya mengalami hal-hal yang saya sebut kan tadi…tp kl barang yg kita inginkan sudah ditangan….wah seru kita bisa tahu typikal kita dalam mendapatkan barang seperti apa..dapat yg murah, mahal, atau harga standar? kembali ke garis rejekinya..heheh halagh kok jadi nyampah begini….mmaaph!


  2. Kang Tatang mohon maap…sebetulnya ceritanya masih amat sangat jauh, cuma saya nulisnya dah kecapean…to be continue ya…sabar ya kang. Nuhun ah.



Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.